BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Islam
diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus
Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada
Allah SWT. Oleh karena itu, selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina
dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan
manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang
dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa
ketaqwaan kepada Allah SWT.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
Allah
Swt. mengutus para Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah dan sebagai penerang
serta washilah untuk menunjukan manusia kepada jalan yang lurus, jalan yang
keridhoan dan jalan yang akan menyelamatkan manusia dalam setiap dimensi
kehidupan, tidak hanya duniawi yang dikejar akan tetapi keabadian akhirat
sebagai tujuan utama dalam mengarungi kehidupan ini.Allah menurunkan
Kitab-Kitab kepada para Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti atas kebesaran-Nya dan
juga sebagai ujian bagi manusia, apakah manusia akan berimana pada kitab-kitab
tersebut ataukan ia akan menjadi golongan pembangkang yang mendapatkan murka
Allah Swt. Pada ayat-ayat berikut penyusun akan mencoba memamaprakn beberapa
penafsiran tentang ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mengandung
pelajaran dan mengabarkan bahwa Allah Swt. mengutus Nabi dan Rasul dengan
Mambawa Kitab yang harus dijadikan landasan dalam gerak kehidupan dan ayat-ayat
ini menerangkah tentang risalah nubuwah atau risalah tentang kenabian beserta
Kitab yang dibawa besertanya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
QUR’AN
SURAT AN-NAHL AYAT 36
ôs)s9ur $uZ÷Wyèt/ Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqß§ Âcr& (#rßç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B yyd ª!$# Nßg÷YÏBur ïÆ¨B ôM¤)ym Ïmøn=tã ä's#»n=Ò9$# 4 (#rçÅ¡sù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. c%x. èpt7É)»tã úüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÌÏÈ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[1]
itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
a. Pengertian Global
Dalam
Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur Nabi Muhammad SAW, dalam menghadapi
para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun
telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada
juga yang membangkang. Kata (الْطَّـغُوتَ) thaghut terambil dari kata (طغى) thagha
yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti
berhala-berhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk
dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala
sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan,
pelanggaran, dan sewenang-wenangan terhadap manusia.[2] Allah
mengabarkan kepada kita untuk meneliti sejarah umat terdahulu, baik umat yang
memperoleh dan mendapat petunjuk dari Allah Swt. ataupun ummat yang membangkang
karena didalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi manusia dan menjadi
bekal agar manusia tidak terjerumus kedalam lubang yang sama untuk kesekian
kalinya.
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini yaitu:
1. Perintah untuk tidak beribadah selain kepada Allah dan tidak
mengingkarinya/kafir.
2. Perintah untuk menjauhi syaitan dan sekutunya.
3. Dapat mengambil pelajaran pada setiap kesalahan yang pernah diperbuat oleh
ummat terdahulu dan tidak mengulanginya kembali.[3]
b. Tafsir Ayat
Kemudian
dari pada itu Allah SWT menjelaskan bahwa para Rasul itu diutus sesuai dengan
Sunatullah, yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing
manusia ke jalan yang lurus. Bimbingan Rasul-rasul itu diterima oleh
orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan menyampaikan mereka kepada
kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat, akan tetapi orang-orang yang
bergelimang dalam kemusyrikan dan jiwanya dikotori oleh noda noda kemaksiatan
tidaklah mau menerima bimbingan Rasul itu.
Allah
SWT menjelaskan bahwa Dia telah mengutus beberapa utusan kepada tiap-tiap umat
yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat
manusia seluruhnya. Oleh sebab itu, manusia hendaklah mengikuti seruannya,
yaitu beribadat hanya kepada Allah SWT yang tidak mempunyai serikat dan
larangan mengingkari seruannya, yaitu tidak boleh mengikuti tipu daya setan
yang selalu menghalang-halangi manusia mengikuti jalan yang benar. Setan-setan
itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan manusia.
Allah
SWT berfirman Artinya: “Dan Kami tidak
mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:
“Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu
sekalian akan Aku.” (Q.S Al Anbiya’: 25) Dan firman Nya lagi Artinya: Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang
telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukun Tuhan-tuhan untuk
disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (Q.S Az Zukhruf: 45) Dari uraian
tersebut dapatlah dipahami bahwa secara yuridis Allah tidak menghendaki hamba
Nya menjadi kafir, karena Allah SWT telah melarang mereka itu mengingkari
Allah. Larangan itu telah disampaikan melalui Rasul-Nya. Akan tetapi apabila
ditinjau dari tabiatnya, maka di antara hamba Nya mungkin saja mengingkari
Allah, karena manusia telah diberi pikiran dan diberi kebebasan memilih sesuai
dengan kehendaknya. Maka takdir Allah berlaku menurut pilihan mereka itu. Maka
apabila ada di antara hamba Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan
dimasukkan ke neraka Jahanam bersama sama dengan setan-setan mereka, maka tidak
ada alasan bagi mereka untuk membantah, karena Allah telah cukup memberikan
akal pikiran serta memberikan pula kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap
jalan mana yang harus mereka tempuh. Sedangkan Allah sendiri tidak menghendaki
apabila hamba Nya itu menjadi orang-orang yang kafir. Kemudian Allah SWT
menjelaskan bahwa Allah telah memperingatkan sikap hamba Nya yang mendustakan
kebenaran Rasul. Dengan mengancam mereka akan memberikan hukuman di dunia
apabila setelah datang peringatan dari Rasul, mereka tidak mau mengubah
pendiriannya.
Allah
SWT menjelaskan bahwa setelah mereka kedatangan Rasul ada yang diberi petunjuk
oleh Allah dan diberi taufik karena mereka telah mempercayai Rasul, menerima
petunjuk-petunjuk yang dibawanya serta suka mengamalkan petunjuk-petunjuk itu.
Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari siksaan Allah. Akan
tetapi di antara mereka ada pula yang benar-benar menyimpang tidak mau
mengikuti petunjuk Rasul Nya, dan mengikuti tipu daya setan-setan, maka Allah
membinasakan mereka dengan hukuman Nya yang sangat pedih. Dan Allah menurunkan
pula berbagai macam bencana yang tidak dapat mereka hindari lagi. Sesudah itu
Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar berkelana di muka bumi serta
menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim. Kemudian mereka
disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama
Allah.
Dalam ayat ini An Nahl ayat 36, Allah SWT menyuruh manusia agar mengadakan
penelitian terhadap sejarah bangsa yang lain dan membandingkan di antara
bangsa-bangsa yang menaati Rasul dengan bangsa-bangsa yang mengingkari seruan
Rasul agar mereka dapat membuktikan bagaimana akibat dari bangsa-bangsa itu.
Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka itu mau
mengikuti seruan Rasul dan melaksanakan seruannya.
B.
QUR’AN
SURAT AL-HADID AYAT 25
ôs)s9 $uZù=yör& $oYn=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ $uZø9tRr&ur ÞOßgyètB |=»tGÅ3ø9$# c#uÏJø9$#ur tPqà)uÏ9 â¨$¨Y9$# ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( $uZø9tRr&ur yÏptø:$# ÏmÏù Ó¨ù't/ ÓÏx© ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 zNn=÷èuÏ9ur ª!$# `tB ¼çnçÝÇZt ¼ã&s#ßâur Í=øtóø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# ;Èqs% ÖÌtã ÇËÎÈ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab
dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami
ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat
bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui
siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak
dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”
a. Pengertian Global
Pada
Ayat ke-25 Surat Al-Hadid yang berarti Besi ini, Allah Swt. mengabarkan kepada
kita semua bahwa Allah Swt. telah mengutus beberapa Rasul untuk menyampaikan
Risalahnya dengan berbagai kemampuan dan bukti nyata (Mukjizat) yang
membuktikan bahwa para Rasul adalah manusia yang dipilih Allah untuk
menyebarkan risalah-Nya. dalam hal ini Allah Swt. menjelaskan telah menjadikan
besi bagi kemanfaatna manusia dan dijadikan sebagai bukti bahwa Allah Swt. yang
bekehendak atas segala sesuatu dan segala hal.
Allah
Swt. mengutus para Rasul disertai dengan Kitab dimana didalamnya terdapat
tentang ajaran-ajaran yang harus disampaikan oleh para Rasul kepada Ummatnya,
dinatara kitab-kitab itu adalah Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an sebagai
penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya dan menjadi dasar untuk menegakkan
neraca keadilan atau sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan atas
berbagai permasalahan. Pada akhir ayat tersebut Allah Swt. memberikan
penjelasan tentang adanya manfaat dari besi dan kehebatan yang luar biasa
sebagai bukti ke Maha Agungan dan ke Maha Besar-an Allah Swt. Karena memang
telah kita ketahui bersama dengan adanya besi ini kita dapat merasakan
kehidupan yang lebih baik dan paling penting dapat mengubah peradaban manusia
menuju lebih baik dengan dibuktikan semakin pesatnya perkembangan tekhnologi
dan informasi yang merupakan salah satu manfaat dari besi yang telah
digambarkan oleh Allah pada ayat tersebut.
b. TafsirAyat
Allah
SWT menerangkan bahwa Dia telah mengutus para Rasul kepada umat-umat-Nya dengan
membawa bukti-bukti yang kuat untuk membuktikan kebenaran risalah-Nya. Di
antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para
Rasul itu, seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim as,
mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf as, Tongkat sebagai mukjizat Nabi
Musa as. Al-quran sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya. Dalam pada
itu setiap Rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada
umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan
adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-quran.
Ajaran agama itu berupa petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup
di dunia dan di akhirat. Sebagai dasar mengatur dan membina masyarakat, maka
setiap agama yang dibawa oleh para Rasul itu mempunyai asas “keadilan”.
Keadilan ini wajib ditegakkan oleh para Rasul dan pengikut-pengikutnya dalam
masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai
kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpinnya dan sebagainya,
sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukannya dalam hukum, sikap dan
perlakuan.
Di samping itu Allah SWT menganugerahkan kepada manusia “besi” yaitu suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama Nya, menegakkan keadilan dan menjaga keamanan negeri. Allah SWT menerangkan bahwa Dia melakukan yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para Rasul yang diutus Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu Allah SWT ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat Nya itu. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para Rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.
Di samping itu Allah SWT menganugerahkan kepada manusia “besi” yaitu suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama Nya, menegakkan keadilan dan menjaga keamanan negeri. Allah SWT menerangkan bahwa Dia melakukan yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para Rasul yang diutus Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu Allah SWT ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat Nya itu. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para Rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.
Sehubungan
dengan kegunaan besi ini diterangkan dalam hadis Artinya: Dari Ibnu Umar, ia
berkata, “Bersabda Rasulullah saw: “Aku
diutus dengan pedang (besi) sebelum kedatangan Hari Kiamat (akhir zaman),
sehingga orang menyembah Allah saja, tidak ada syerikat bagi Nya dan Allah
menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku dan menjadikan hina dan rendah
orang yang menyalahi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum
maka ia termasuk kaum itu”. (H.R. Ahmad dan Abu Daud) Pada akhir hadis ini
Allah SWT menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun
yang mengalahkan Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat
mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan Nya.
Dari
ayat tersebut dapat kita ambil pelajaran yaitu:
1. Bahwasanya
tidak ada keraguan atas kerasulan Nabi Muhammad SAW.
2. Dan
setiap rasul mempunyai kitab suci sebagai bukti kebenarannya.
C.
QUR’AN
SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 48
!$uZø9tRr&ur y7øs9Î)
|=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd|ÁãB
$yJÏj9
ú÷üt/
Ïm÷yt
z`ÏB
É=»tGÅ6ø9$# $·YÏJøygãBur Ïmøn=tã
( Nà6÷n$$sù OßgoY÷t/ !$yJÎ/
tAtRr& ª!$#
( wur
ôìÎ6®Ks?
öNèduä!#uq÷dr&
$£Jtã x8uä!%y`
z`ÏB
Èd,ysø9$# 4 9e@ä3Ï9
$oYù=yèy_ öNä3ZÏB Zptã÷Ű
%[`$yg÷YÏBur
4 öqs9ur
uä!$x©
ª!$#
öNà6n=yèyfs9
Zp¨Bé&
ZoyÏnºur `Å3»s9ur
öNä.uqè=ö7uÏj9 Îû !$tB
öNä38s?#uä
( (#qà)Î7tFó$$sù ÏNºuöyø9$# 4 n<Î)
«!$#
öNà6ãèÅ_ötB
$YèÏJy_
Nä3ã¥Îm6t^ãsù
$yJÎ/ óOçGYä. ÏmÏù tbqàÿÎ=tFørB ÇÍÑÈ
“Dan
Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa
yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[4]
terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa
yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat
diantara kamu[5],
Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya
kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah
kamu perselisihkan itu”
a. Pengertian Global
Pada
ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa Allah Swt. telah menurunkan Al-Qur’an
sebagai bukti kebenaran atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
kepada ummatnya. Dimana Al-Qur’an merupakan Kitab yang menyempurnakan
Kitab-Kitab yang telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul terdahulu karena
memang Kitab-Kitab terdahulu telah banyak diubah dan dimanipulasi oleh perkataan-perkataan
manusia. Kemudian Allah Swt. menegaskan untuk menggunakan Al-Qur’an sebagai
dasar untuk memutuskan setiap perkara dan menjadi dasar dalam kehidupan manusia
serta tidak terbawa oleh hawa nafsu yang akan membawa kepada keburukan dan
kebinasaan sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Ahli Kitab yang mengingkari
kebenaran Al-Qur’an.
Allah
Swt. menerangkan pula bahwa Allah Swt. sangat bisa untuk menjadikan ummat ini
menjadi satu golongan, hanya saja Allah hendak menguji kepada manusia agar
dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, serta memberikan pilihan
kepada kebaikan atau kepada keburukan. Oleh Karena itu, Allah Swt. menyuruh
kepada kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba mencari jalan
yang telah diisyaratkan oleh Allah dalam setiap firman-Nya dan Allah Swt.
menurunkan Kitab Al-Qur’an untuk menjadi penengah dan sebagai petunjuk menuju
jalan yang lurus dan menghindari perselisihan diantara ummat ini. Kemudian
kelak Allah Swt. akan menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah atas
pilihan manusia itu, karena semuanya berpulang dan akan kembali kepada Allah
Swt.
b. TafsirAyat
Setelah
Allah swt. menerangkan bahwa kitab Taurat telah diturunkan kepada Nabi Musa
a.s. dan kitab Injil telah diturunkan pula kepada Nabi Isa a.s. dan agar kitab
tersebut ditaati dan diamalkan oleh para penganutnya masing-masing, maka pada
ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. menurunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir
Muhammad saw. kitab suci A-lquran yaitu kitab samawi terakhir yang membawa
kebenaran, mencakup isi dan membenarkan kitab suci sebelumnya seperti kitab
Taurat dan Injil. Al-quran adalah kitab yang terpelihara dengan baik, sehingga
ia tidak akan mengalami perubahan dan pemalsuan. Al-quran adalah kitab suci
yang menjamin syariat yang murni sebelumnya dan kitab suci satu-satunya yang
berlaku sejak diturunkannya sampai hari kemudian. Oleh karena itu pantaslah,
bahkan wajib menghukum dan memutuskan perkara putra manusia sesuai dengan hukum
yang telah diturunkan Allah yang telah terdapat di dalamnya dan bukanlah pada
tempatnya menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsu mereka yang bertentangan
dengan kebenaran yang dibawa oleh Junjungan kita Nabi Muhammad saw.
Tiap-tiap
umat Allah diberi syariat (peraturan-peraturan khusus) dan diwajibkan kepada
mereka melaksanakannya dan juga mereka telah diberi jalan dan petunjuk yang
harus melaksanakannya untuk membersihkan diri dan menyucikan batin mereka.
Syariat setiap umat dan jalan yang harus ditempuhnya boleh saja berubah rubah
dan bermacam-macam tetapi dasar dan landasan Agama Samawi hanyalah satu. Kitab
Taurat, Injil dan Al-quran, masing-masing mempunyai syariat tersendiri, di mana
Allah swt. telah menentukan hukum halal dan haram, sesuai dengan kehendak-Nya
untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak. Firman Allah swt.
Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang
rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan padanya, “Bahwasanya tidak ada
tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku” maka sembahlah Aku olehmu sekalian.
(Q.S. Al-Anbiya’: 25) Sekiranya Allah swt. menghendaki, tentulah Dia dapat
menjadikan manusia hanya mempunyai satu syariat dan satu macam jalan pula yang
akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada
peningkatan dan kemajuan seperti halnya burung dan lebah, tentunya akan
terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikitpun, karena Allah swt. kuasa atas
segala sesuatu tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya. Allah swt.
menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan
pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa
kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya. Demikianlah
Allah swt. menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri
untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah
Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sebagai mana yang telah ditetapkan di dalam
kitab Samawi-Nya, untuk dapat diberi Pahala atau disiksa. Oleh karena itu
seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai
dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad saw.
Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya. untuk kepentingan di dunia dan
kebahagiaan di akhirat kelak. Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan
kembali kepada Allah swt. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah
nanti Allah swt. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang
diperselisihkan mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman akan diberi
pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng
dari-Nya tanpa alasan dan bukti akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.
Dari ayat
tersebut terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Al-Quran bila dibandingkan dengan kitab-kitab samawi
terdahulu memiliki kemuliaan dan keistimewaan.
2. Bahaya yang mengancam para tokoh masyarakat ialah ketidak pedulian
terhadap hakikat ilahi demi menarik simpati manusia, serta menuruti keinginan
mereka yang tidak pada tempatnya.
3. Salah satu dari sarana cobaan Allah ialah adanya
perbedaan agama di sepanjang sejarah, sehingga dapat memperjelas siapa
gerangan yang bisa menerima kebenaran, serta siapa yang ekstrim dan keras
kepala.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagaimana
yang terkandung dalam surat An-Nahl (36), Al-maidah (48), dan Surat Al-Hadid
(56) menerangkan tentang inti dari pada penyampaian Risalah. Oleh karena itu,
dalam pembahasan ini banyak mengandung masalah kenabian, ketuhanan, dan
peribadatan terhadap Allah Swt. Ilmu taubat adalah ilmu yang penting, bahkan
urgen. Keperluan atas ilmu itu amat mendesak, terutama dalam zaman kita ini.
Karena manusia telah banyak tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Mereka
melupakan Allah SWT sehingga Allah SWT membuat mereka lupa akan diri mereka.
Banyak sekali godaan untuk melakukan kejahatan, dan banyak pula penghalang manusia
untuk melakukan kebaikan. Beragam cara dipergunakan untuk menghalangi manusia
dari jalan Allah SWT.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Quran dan terjemah.
Shihab,Moh Quraish. Tafsir Al-Misbah Vol:03, Jakarta: Pustaka
Lentara hati, 2002.
Departemen Agama RI. Al-Quran Bayan, Jakarta: Quran Bayan ,
2009.
Rifa’i,Muhammad
Nasib. Ringkasan tafsir ibnu katsir, jilid 2 dan 4, Jakarta : Gema
Insani, 2000.
[1]
Thaghut ialah
syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah swt.
[2] Moh Quraish
Shihab. Tafsir Al-Misbah Vol:03, (Jakarta: Pustaka Lentara hati, 2002),
hal:224
[3] Departemen
Agama RI, Al-Quran Bayan, ( Jakarta: Quran Bayan , 2009)hal: 271.
[4]
Maksudnya:
Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam
Kitab-Kitab sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar